Brother in Law (BiL ) Project cukup jeli menghadirkan nuansa musik yang jelas berbeda dari aliran musik yang berkembang dewasa ini. Musik sawah begitu BiL menyebut genre musik yang mereka usung memang terdengar relatif asing ditelinga penikmat musik. Padahal genre musik ini merupakan diadaptasi dari berbagai unsur bunyi-bunyian khas musik tanah air yang dikemas dalam hentakan drum dan alat perkusi lainnya.
Selasa, 12 July 2011
BiL Project Wajah Lama Dengan Sentuhan Genre Musik Sawah
"Intinya kita cari musik yang fresh. Tantangan umur segini ya selain main musik tentu ada banyak misi lain. Kami enggak menciptakan lagu, tapi bikin musik," tutur Gilang Ramadhan di Bentara Budaya Jakarta, belum lama ini.
Untuk lebih mendekat musik sawah BiL Project juga menggelar konser mini di Bentara Budaya. BiL yang menghadirkan single 'Hatiku Hancur' memiliki misi dalam menggarap musik, yakni kampanye lingkungan hidup.
"Ini konser pertama kita bertiga. Idenya berasal dari keprihatinan kita terhadap mulai rusaknya lingkungan hidup di negara kita. Selain lewat lagu, kita juga ingin ajak masyarakat lebih peduli dengan lingkungan sekitar," ujar Ikang Fawzi.
BiL memberikan penampilan terbaiknya saat tampil di depan publik. Beberapa lagu milik BiL seperti 'Marry Me', 'Hatiku Hancur' dan 'Preman' (lagu hits milik Ikang Fawzi) dibawakan secara apik. Gilang pun memberikan permainan drum yang memukau penonton dengan musik sawah ala BIL. Musik sawah untuk daerah Aceh, Sunda dan Papua dimainkan Gilang dengan berbeda irama. Banyak penonton terkagum-kagum dengan permainan Gilang.
Gilang (48), Ikang (51), dan Ekki (49) telah menunjukkan keberanian dalam berkreasi di dunia musik. Musik sawah dan misi yang diembang memang butuh dukungan semua pihak untuk terus bergema sampai kapanpun. Karena musik dan pesan atau misi yang dibawa BiL adalah mengungah kesadaran kita akan kekayaan musik anak negeri yang begitu beragam. (and)
